Mejapublik.com Jakarta — Menteri Agama Nasaruddin Umar melepas 29 mahasiswa Program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) yang akan mengikuti program short course di Amerika Serikat. Pelepasan berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Program ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas keilmuan kader ulama Indonesia melalui jejaring akademik internasional. Dari total peserta, sebanyak 21 mahasiswa akan mengikuti pembelajaran di University of California, Riverside, sementara delapan peserta lainnya belajar di Hartford International University.
Menteri Agama mengapresiasi para peserta yang berhasil lolos seleksi. Menurutnya, kesempatan mengikuti short course di Amerika Serikat bukanlah hal yang mudah dan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan kesungguhan.
“Kesempatan ini tidak datang kepada semua orang. Karena itu, fokuslah menuntut ilmu, perkaya wawasan, dan hargai setiap waktu yang kalian miliki,” ujarnya di Jakarta, Senin, (23/2/2026).
Ia menegaskan bahwa pengiriman kader ulama ke pusat-pusat pendidikan internasional merupakan bagian dari upaya memperkuat diplomasi keilmuan Indonesia sekaligus membangun perspektif keagamaan yang terbuka dan berdaya saing global.
Menag juga berpesan agar para peserta tidak menyia-nyiakan kesempatan belajar selama berada di luar negeri. Disiplin waktu dan kesungguhan dalam menuntut ilmu, kata dia, menjadi kunci utama dalam proses pembentukan ulama masa depan.
“Gunakan waktu sebaik-baiknya. Jangan ada kesempatan belajar yang terlewat tanpa makna,” pesannya.
Lebih lanjut, Menag berharap para calon kader ulama tidak hanya kembali membawa pengetahuan untuk kepentingan pribadi, tetapi mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh bagi kemaslahatan masyarakat.
“Ilmu yang diperoleh harus kembali kepada umat. Kalian diharapkan menjadi penghubung antara tradisi keilmuan Indonesia dan pengalaman global yang bermanfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Program PKUMI merupakan salah satu inisiatif kaderisasi ulama berbasis masjid yang diarahkan untuk melahirkan pemimpin keagamaan yang memiliki kedalaman ilmu, wawasan kebangsaan, serta kemampuan menjawab tantangan global secara moderat dan konstruktif. (*)
